TENTANGKALTENG.ID, JAKARTA – Perekonomian Indonesia pada Triwulan II tahun 2025 menunjukkan kinerja positif dengan pertumbuhan yang tetap terjaga di tengah dinamika dan ketidakpastian ekonomi global.
Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF) dalam laporan terbarunya pada Juli 2025 memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 4,8 persen pada tahun 2025. Angka tersebut naik 0,1 poin persen dibanding proyeksi sebelumnya sebesar 4,7 persen. Revisi ini sejalan dengan perbaikan outlook pertumbuhan ekonomi global yang diperkirakan mencapai 3 persen pada 2025 dan 3,1 persen pada 2026.
IMF menilai peningkatan proyeksi tersebut didorong oleh permintaan global yang lebih tinggi dari perkiraan awal, perbaikan kondisi finansial, pelemahan dolar Amerika Serikat, serta ekspansi fiskal di sejumlah negara utama. Di sisi lain, IMF juga mengingatkan bahwa ketegangan geopolitik masih berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi dan mengganggu rantai pasok global.
Di dalam negeri, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada Triwulan II-2025 atas dasar harga berlaku mencapai Rp5.947,0 triliun dan atas dasar harga konstan 2010 sebesar Rp3.396,3 triliun. Secara kuartalan, ekonomi Indonesia tumbuh 4,04 persen dibanding Triwulan I-2025.
Secara tahunan, ekonomi Indonesia pada Triwulan II-2025 tumbuh 5,12 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Dari sisi produksi, sektor Jasa Lainnya mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 11,31 persen. Sementara dari sisi pengeluaran, ekspor barang dan jasa tumbuh paling tinggi sebesar 10,67 persen.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI Airlangga Hartarto menyampaikan capaian tersebut menunjukkan fondasi ekonomi nasional yang kuat.
“Alhamdulillah kita kembali ke jalur 5 persen, jadi 5,12 persen. Indonesia hanya di bawah China yang 5,2 persen. Beberapa negara di bawah kita mulai Malaysia, Singapura, kemudian berbagai negara lain, termasuk Amerika yang 2 persen, kemudian Korea juga relatif rendah, sehingga di antara negara G20 dan ASEAN, kita salah satu yang tertinggi,” ungkap Airlangga dalam konferensi pers di Jakarta, pada Selasa, 5 Agustus 2025.
Airlangga menjelaskan pertumbuhan tersebut ditopang oleh kinerja positif seluruh lapangan usaha, khususnya industri pengolahan, pertanian, serta perdagangan besar dan eceran. Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga dan Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) menjadi penggerak utama, mencerminkan daya beli masyarakat dan aktivitas investasi yang tetap terjaga.
Pemerintah juga terus menggulirkan berbagai paket stimulus ekonomi untuk menjaga momentum pertumbuhan. Pada Juni–Juli 2025, pemerintah menyalurkan lima paket stimulus yang meliputi diskon transportasi, diskon tarif tol, penebalan bantuan sosial, bantuan subsidi upah, serta perpanjangan diskon iuran JKK bagi pekerja sektor padat karya.
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menegaskan stimulus tersebut berperan besar dalam menopang konsumsi rumah tangga.
“Pada kuartal II-2025 dilakukan pencairan gaji ke-13 yang nilainya cukup signifikan, lebih dari Rp37 triliun. Pemerintah juga memberikan bantuan subsidi upah yang langsung masuk ke dalam account masing-masing pekerja formal. Tentu ini langsung menciptakan multiplier melalui konsumsi rumah tangga,” kata Sri Mulyani.
Secara spasial, pertumbuhan ekonomi juga semakin inklusif. Pulau Jawa masih menjadi kontributor utama dengan pertumbuhan 5,24 persen, sementara Sulawesi mencatat pertumbuhan lebih tinggi sebesar 5,83 persen yang didorong sektor pengolahan berbasis sumber daya alam.
Ke depan, pemerintah optimistis pertumbuhan ekonomi pada semester II-2025 akan tetap terjaga melalui percepatan belanja negara, kelanjutan program stimulus, serta penguatan permintaan domestik. Sinergi antara kebijakan fiskal, dunia usaha, dan masyarakat dinilai menjadi kunci agar ekonomi nasional terus tumbuh sehat, berkelanjutan, dan tangguh menghadapi tantangan global.
Reporter: Nurul Hidayah
Editor: Aris Kurnia Hikmawan