Legislator Al Hadi Tegaskan Peran Strategis NU di Konfercab IX NU Barut

Aris Kurnia Hikmawan

9 February 2025, 18:24 WIB

Bagikan

Keterangan Foto: Anggota DPRD Barito Utara, sekaligus Rais Syuriyah PC NU Barito Utara, H. Al Hadi pada saat pembukaan Konferensi Cabang (Konfercab) IX NU Barito Utara, pada Sabtu, 9 Februari 2025. (ist)

TENTANGKALTENG.ID, BARITO UTARA – Anggota DPRD Barito Utara sekaligus Rais Syuriyah Pimpinan Cabang (PC) Nahdlatul Ulama (NU) Barito Utara, H. Al Hadi, menegaskan peran NU sebagai organisasi keagamaan dan kemasyarakatan terbesar dalam sejarah bangsa Indonesia. Pernyataan ini ia sampaikan saat membuka Konferensi Cabang (Konfercab) IX NU Barito Utara pada Minggu, 9 Februari 2025.

H. Al Hadi menekankan bahwa NU lahir dan berkembang dengan corak serta kultur khasnya yang unik, memainkan peran krusial dalam perjalanan sejarah Indonesia. Sebagai organisasi berhaluan Ahlussunnah wal Jamaah, NU senantiasa bersikap akomodatif terhadap berbagai mazhab keagamaan di sekitarnya.

“NU tidak pernah berpikir untuk menyatukan atau menghilangkan madzhab-madzhab yang ada. Sebagai organisasi kemasyarakatan, NU juga menampilkan sikap toleransi terhadap nilai-nilai lokal,” ujar H. Al Hadi.

Ia juga menjelaskan bahwa NU telah berakulturasi dengan tradisi dan budaya masyarakat setempat, mengakui keberagaman yang ada, dan menjunjung hak setiap budaya untuk tetap eksis di Indonesia. Dengan prinsip tersebut, NU menghadirkan wajah Islam yang bercorak ke-Indonesiaan, ramah terhadap budaya lokal, dan terbuka terhadap nilai-nilai universal yang positif.

“Hal ini memudahkan NU diterima di berbagai lapisan masyarakat,” imbuhnya.

Lebih lanjut, Al Hadi menyoroti sikap politik NU yang tetap netral terhadap kekuatan politik dan pemerintah.

“NU memilih jarak sosial yang netral dengan kekuatan politik dan pemerintah, namun memberi kebebasan kepada warganya untuk memilih dan menyalurkan aspirasi politiknya kepada partai manapun, selama mereka tetap sadar bahwa mereka adalah warga Nahdliyin,” tegasnya.

Dalam kesempatan tersebut, ia juga mengingatkan bahwa tantangan yang dihadapi warga NU di masa mendatang akan semakin berat, seiring dengan semakin kompleksnya permasalahan sosial. Oleh karena itu, NU merasa berkewajiban untuk memperkuat strategi budaya dan peradaban bangsa.

“Masa depan datang lebih cepat daripada kita menyiapkan diri, dan kita tidak ingin umat dan bangsa kehilangan identitas dan karakter,” ungkapnya.

Menghadapi dinamika zaman, NU tetap berpegang pada prinsip Al-muhafadhatu ‘alal qadimis shalih wal akhdzu bil jadidil ashlah, yang berarti mempertahankan nilai-nilai lama yang baik dan mengambil nilai-nilai baru yang lebih baik.

“NU memiliki fikrah nahdliyyah yang menjadi landasan berpikir bagi warga NU, mencakup prinsip moderat, toleran, reformasi, dinamis, dan metodologis,” pungkasnya. 

Reporter: Nurul Hidayah
Editor: Aris Kurnia Hikmawan

Aris Kurnia Hikmawan

Diperbarui 14 February 2025

Bagikan

Rekomendasi

NasDem Sukamara Salurkan Bantuan Kemanusiaan untuk Korban Kebakaran Kartamulia

Kasus Dugaan Pelecehan di Konser Amal Jadi Momentum Memahami Seksisme di Ruang Publik

Edukasi Pasar Modal Mahasiswa Untama Dorong Inklusi Keuangan Kotawaringin Barat

Polres Barsel Salurkan 12 Ribu Liter Air Bersih untuk Warga

Vokalis Perempuan Dilecehkan Pakai Celana Dalam Saat Konser Amal, Muchlis Safari Meradang!

Babak Baru Pasar Komoditas, OJK Ambil Alih Pengawasan Bursa Mineral

Pemkab Sukamara Petakan Pembangunan Sumur Bor Cegah Karhutla

Sungai Jelai Payau, PDAM Sukamara Atur Pengolahan Air

Dukung Kegiatan Pemuda, Bupati Sukamara Buka Turnamen KNPI Cup 2026

Tingkatkan Kesadaran Karhutla, Mabes TNI Edukasi Warga Sukamara

Antisipasi Lonjakan Karhutla, Pemkab Sukamara Tambah Personel Satgas Lintas Sektor

Jembatan Sungai Damar Terdampak Karhutla, Bupati Sukamara Instruksikan Perbaikan Cepat