PWI Barito Utara Bagikan Ratusan Masker di Tengah Kabut Asap

Aris Kurnia Hikmawan

25 October 2026, 17:41 WIB

Bagikan

Keterangan Foto: PWI Barito Utara membagikan ratusan masker kepada pengguna jalan di Muara Teweh sebagai bentuk kepedulian terhadap kesehatan warga di tengah kabut asap pada Sabtu, 24 Oktober 2026. (ist)

TENTANGKALTENG.ID, BARITO UTARA – Persatuan Wartawan Indonesia Kabupaten Barito Utara membagikan ratusan masker kepada masyarakat di Muara Teweh sebagai bentuk kepedulian terhadap kesehatan warga yang terdampak kabut asap, pada Sabtu, 24 Oktober 2026.

Kabut asap yang menyelimuti Muara Teweh dan wilayah sekitarnya dalam beberapa hari terakhir mulai mengganggu aktivitas masyarakat. Selain membatasi jarak pandang pengguna jalan, kondisi udara tersebut juga memunculkan kekhawatiran terhadap kesehatan warga.

Kegiatan sosial PWI Barito Utara dilaksanakan di dua titik, yakni di depan Sekretariat PWI di Jalan Pramuka dan kawasan Bundaran Buah, Muara Teweh. Masker dibagikan kepada pengendara sepeda motor maupun mobil yang melintas.

Ketua PWI Kabupaten Barito Utara, H. Deni Haryadi, menekankan pentingnya keterlibatan seluruh elemen masyarakat dalam menghadapi ancaman kabut asap. Menurutnya, persoalan tersebut tidak bisa hanya diserahkan kepada pemerintah maupun petugas di lapangan.

Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar dan menghindari aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran, khususnya ketika cuaca sedang kering.

“Pencegahan karhutla merupakan tanggung jawab kita bersama. Kesadaran masyarakat sangat penting agar kebakaran tidak terus berulang dan warga tidak kembali menjadi korban dampak kabut asap,” demikian pesan yang ditekankan dalam upaya mengajak masyarakat lebih peduli terhadap lingkungan.

Kebakaran hutan dan lahan tidak hanya merusak lingkungan, tetapi juga berpotensi mengganggu kehidupan masyarakat. Dampaknya meliputi penurunan kualitas udara, terbatasnya jarak pandang, gangguan transportasi, hingga meningkatnya risiko masalah kesehatan.

Anak-anak, lanjut usia, dan warga dengan kondisi kesehatan rentan perlu memperoleh perhatian lebih ketika kualitas udara memburuk. Masyarakat juga diingatkan untuk tidak membakar lahan, menghindari membuang puntung rokok sembarangan, serta segera melaporkan temuan titik api kepada petugas terkait.

Penanganan karhutla membutuhkan kerja sama pemerintah daerah, aparat keamanan, dunia usaha, organisasi masyarakat, insan pers, dan warga. Kolaborasi tersebut diperlukan agar pencegahan maupun penanganan kebakaran dapat berjalan lebih efektif.

Melalui pembagian masker ini, PWI Barito Utara menunjukkan bahwa kontribusi wartawan tidak terbatas pada penyampaian informasi, tetapi juga dapat diwujudkan melalui kegiatan sosial yang bermanfaat langsung bagi masyarakat.

“Cegah karhutla sekarang, lindungi lingkungan, dan selamatkan masa depan generasi mendatang,” tambah Agus Sidik sekretaris PWI.

Di tengah ancaman kabut asap, perlindungan kesehatan perlu berjalan beriringan dengan upaya mencegah kebakaran agar masyarakat tidak terus menghadapi dampaknya.

Reporter: Nurul Hidayah
Editor: Aris Kurnia Hikmawan

Aris Kurnia Hikmawan

Diperbarui 25 October 2026

Bagikan

Rekomendasi

PAMA Distrik BEKB Edukasi Siswa SMPN 1 Teweh Timur Cegah Bahaya Narkoba

Rangkaian BIK 2026 Hadirkan Berbagai Program Edukasi dan Aksi Sosial di Kotawaringin Barat

OJK Kalteng Gelar Puncak Bulan Inklusi Keuangan 2026 di Pangkalan Bun

HUT Golkar Kalteng Diisi Aksi Sosial dan Kepedulian Lingkungan

SMSI Kalteng Siap Bersinergi dengan Bawaslu Awasi Pemilu 2029

Karhutla Kalteng Memburuk, ARUN Kalteng Desak Presiden Tetapkan Status Bencana Nasional

Sengketa Lahan Hiu Putih Memanas, Pembangunan Toko Jeffriko Seran Diduga Tanpa Izin

OJK dan BI Kalteng Bersama FKIJK-BMPD Salurkan Bantuan Kemanusiaan dan Penanganan Karhutla

Sektor Jasa Keuangan Kalteng Tetap Tangguh Hadapi Dinamika Global dan Karhutla

Stabilitas Sektor Keuangan Nasional Tetap Kokoh di Tengah Tekanan Global

NasDem Sukamara Salurkan Bantuan Kemanusiaan untuk Korban Kebakaran Kartamulia

Kasus Dugaan Pelecehan di Konser Amal Jadi Momentum Memahami Seksisme di Ruang Publik