Dinkes Kalteng Tegaskan Nihil Kasus Virus Nipah, Warga Diminta Tetap Waspada

Aris Kurnia Hikmawan

2 February 2026, 20:15 WIB

Bagikan

(IST)

TENTANGKALTENG.ID, PALANGKA RAYA – Dinas Kesehatan Kalimantan Tengah memastikan hingga saat ini belum ditemukan kasus virus Nipah di wilayah setempat.

Kepastian tersebut disampaikan sebagai respons atas kekhawatiran masyarakat menyusul munculnya pemberitaan nasional terkait potensi penyebaran virus tersebut di sejumlah daerah.

Kepala Dinas Kesehatan Kalteng, Suyuti Syamsul, menegaskan bahwa hasil pemantauan di lapangan menunjukkan tidak ada laporan dari fasilitas kesehatan terkait temuan virus Nipah.

“Belum ada laporan dari fasilitas kesehatan yang menemukan adanya virus Nipah,” ujarnya pada Senin, 2 Februari 2026.

Ia menjelaskan, langkah pencegahan terhadap virus Nipah pada dasarnya sama seperti penanganan penyakit menular lainnya.

Masyarakat diimbau untuk konsisten menerapkan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dalam aktivitas sehari-hari.

“Penyakit menular, termasuk virus Nipah, bisa dicegah dengan perilaku hidup bersih dan sehat, seperti rutin mencuci tangan dengan air mengalir memakai sabun,” jelasnya.

Terkait kesiapan fasilitas kesehatan jika sewaktu-waktu terjadi kasus, Suyuti menegaskan bahwa tidak ada langkah khusus yang dilakukan secara spesifik.

Menurutnya, tenaga kesehatan telah memahami prosedur penanganan penyakit menular sesuai standar operasional yang berlaku.

“Tidak ada persiapan khusus. Faskes sudah tahu apa yang harus dilakukan,” tutupnya singkat.

Meski demikian, masyarakat tetap diminta untuk tidak lengah dan menjaga kebersihan diri serta lingkungan sebagai langkah pencegahan utama.

Berdasarkan Surat Edaran Kementerian Kesehatan Nomor HK.02.02/C/445/2026 tentang kewaspadaan terhadap virus Nipah, penyakit ini dapat menular ke manusia baik secara langsung maupun melalui perantara hewan seperti babi, serta dari konsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi.

Penularan antar manusia juga dapat terjadi, terutama melalui kontak erat dengan penderita. Gejala yang ditimbulkan bervariasi, mulai dari infeksi saluran pernapasan hingga peradangan otak yang berpotensi fatal, dengan tingkat kematian mencapai 40–75 persen.

Secara historis, wabah pertama virus ini terjadi pada tahun 1998–1999 di Malaysia dan kemudian menyebar ke Singapura. Kasus juga tercatat di India, Bangladesh, dan Filipina.

Di Indonesia sendiri belum ditemukan kasus terkonfirmasi, namun kewaspadaan tetap perlu ditingkatkan mengingat kedekatan geografis dengan negara terdampak.

Selain itu, penelitian menunjukkan adanya keberadaan virus pada kelelawar buah sebagai reservoir alami, yang berpotensi menjadi sumber penularan di masa mendatang.

Reporter: Nurul Hidayah
Editor: Aris Kurnia Hikmawan

Aris Kurnia Hikmawan

Diperbarui 28 March 2026

Bagikan

Rekomendasi

Gugatan Awal Mendadak Berubah, Jeffriko Seran Dinilai Tidak Percaya Diri

Dinilai Copy Paste BAP, Tuntutan Mati Kasus Sabu 9 Kg di PN Sampit Diwarnai Banyak Kejanggalan

OJK Perkuat Struktur Organisasi, Tujuh Pejabat Baru Dilantik

OJK Perkuat Budaya Menabung untuk Dorong Kesejahteraan Generasi Muda

Kalteng Borong Tiga Penghargaan Nasional Literasi Keuangan 2026

DPD ARUN Kalteng Siap Kawal 5 RUU Strategis di DPR RI

Perkuat Pembinaan Atlet Voli Muda, DPRD Pohuwato Dukung Ajang Kapolres Cup II 2026

Laga Puncak Kapolres Pohuwato Cup 2026: PNM FC dan Vanjura FC Siap Bentrok di Partai Final

OJK Kalteng Edukasi Pelajar Palangka Raya Kelola Keuangan Sejak Dini

SMSI Kalteng dan OJK Perkuat Sinergi Perluas Literasi Keuangan

Jaringan Media Jadi Kekuatan Perluas Edukasi Keuangan di Kalteng

Hadapi Tantangan Pengawasan Narkotika Cair, Kariswan Nilai Aspirasi Publik Penting dalam Proses Legislasi